INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di kuartal pertama 2026, Adaro Andalan Indonesia ($AADI) membuka tahun dengan nada yang lebih sendu dari ekspektasi pasar. Laba bersih tercatat sebesar US$143 juta—melemah 17% secara kuartalan dan tergerus 27% dibandingkan tahun lalu—sebuah capaian yang baru memenuhi sekitar 16% dari target konsensus tahunan, jauh di bawah pola historis dua tahun terakhir yang biasanya sudah mengamankan sekitar seperempat dari target di awal tahun.
Akar pelemahan ini tak sulit ditelusuri. Pendapatan menyusut tajam, turun 20% dibanding kuartal sebelumnya, seiring volume penjualan yang ikut terkoreksi dalam (-22% QoQ). Di tengah situasi tersebut, kenaikan harga jual rata-rata (ASP) hanya bergerak tipis, naik 2% QoQ—kontras dengan lonjakan harga batu bara acuan seperti ICI-3 dan ICI-4 yang melesat masing-masing 22% dan 33%. Tekanan datang terutama dari pasar ekspor, yang menyumbang 74% pendapatan, di mana harga justru terkoreksi tipis (-1% QoQ), meskipun pasar domestik memberikan sedikit penopang dengan kenaikan harga 13%.
Di sisi lain, terdapat secercah perbaikan pada margin. Margin laba kotor naik tipis 20 basis poin secara kuartalan, meskipun biaya tunai per ton meningkat 7%. Efisiensi ini sebagian ditopang oleh turunnya biaya pembelian batu bara serta efek akumulasi persediaan—hasil dari penurunan penjualan yang lebih dalam dibandingkan produksi.
Namun jika ditarik ke horizon tahunan, gambarnya tetap menantang. Laba bersih tertekan oleh penurunan pendapatan sebesar 10% YoY, akibat kombinasi penurunan volume (-9%) dan harga jual rata-rata (-2%). Di saat yang sama, kenaikan cash cost sebesar 5% YoY semakin menggerus profitabilitas, tercermin dari kontraksi margin laba kotor sebesar 520 basis poin.