INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kinerja Bumi Resources ($BUMI) pada kuartal pertama 2026 menghadirkan cerita yang cukup kontras antara kekuatan tahunan dan tekanan jangka pendek. Secara tahunan, perseroan membukukan laba bersih sebesar US$24 juta, tumbuh 35% YoY—ditopang oleh lonjakan pendapatan 20% serta ekspansi margin laba kotor sebesar 510 basis poin. Angin segar datang dari kenaikan harga jual batu bara dan emas, yang diperkuat oleh efisiensi beban royalti yang turun 9%.

Namun, jika ditarik ke dinamika kuartalan, narasinya sedikit berubah. Laba bersih anjlok 53% QoQ pada 1Q26. Salah satu faktor utama adalah menyusutnya kontribusi dari Darma Henwa ($DEWA), yang hanya menyumbang US$1 juta—jauh dari US$30 juta di kuartal sebelumnya, yang kala itu terdongkrak oleh keuntungan non-berulang dari konsolidasi PT Gayo Mineral Resources.

Di balik angka headline tersebut, core profit juga tidak luput dari tekanan, turun 18% QoQ. Margin laba kotor tergerus 280 basis poin akibat kenaikan biaya operasional, khususnya stripping dan mining yang melonjak 17% QoQ. Hal ini selaras dengan peningkatan stripping ratio pada proyek-proyek utama seperti PT Arutmin Indonesia (Asam Asam dan Kintap) serta PT Kaltim Prima Coal (Bengalon), yang naik menjadi 13x dari sebelumnya 12x.

Dari sisi pendapatan, pertumbuhan masih terjaga secara kuartalan dengan kenaikan 8% QoQ, didorong oleh penjualan batu bara yang meningkat 8% serta emas yang tumbuh 5%. Meski demikian, hingga saat ini, perseroan belum merilis data operasional lengkap untuk periode 1Q26—menyisakan ruang bagi investor untuk menanti konfirmasi lebih lanjut atas keberlanjutan tren ini.