INDUSTRY.co.id - Jakarta – Momentum peringatan World Immunization Week pada 24–30 April bersamaan dengan kampanye global Shingles Action Week dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap ancaman cacar api atau herpes zoster, terutama bagi kelompok lanjut usia dan penderita penyakit kronis.

Kementerian Kesehatan RI bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, dan GSK Indonesia mendorong penguatan langkah preventif melalui kampanye bertajuk “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi”. Kampanye ini menegaskan pentingnya pencegahan tanpa menunda, khususnya bagi orang dewasa berusia di atas 50 tahun dan individu dengan penyakit penyerta.

Cacar api selama ini kerap dipandang sebagai penyakit kulit biasa. Padahal, penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varisela-zoster itu dapat memicu nyeri hebat hingga komplikasi berkepanjangan seperti neuralgia pascaherpetik. Kondisi tersebut tak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga produktivitas dan beban sistem kesehatan.

Data survei global yang dilakukan GSK menunjukkan dampak signifikan penyakit ini. Sebanyak 42% pasien yang pernah mengalami cacar api mengaku merasakan nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Sementara 33% lainnya menyebut penyakit itu berdampak langsung terhadap produktivitas.

Risiko terkena cacar api juga meningkat pada individu dengan penyakit kronis. Studi klinis mencatat penderita penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi hingga 34%, penyakit ginjal kronis 29%, diabetes 38%, serta PPOK atau asma mencapai 41%.

Meski demikian, tingkat kesadaran masyarakat masih dinilai rendah. Lebih dari separuh responden atau sekitar 54% mengaku belum pernah membicarakan risiko cacar api dengan dokter mereka. Kondisi ini menunjukkan masih perlunya edukasi yang lebih luas agar masyarakat memahami potensi risiko dan pentingnya langkah pencegahan.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menegaskan bahwa imunisasi dewasa kini menjadi kebutuhan penting dalam sistem kesehatan masyarakat.

“Pencegahan merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga produktivitas nasional. Imunisasi dewasa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan kesehatan masyarakat yang penting untuk mengurangi beban penyakit, angka rawat inap, serta dampak ekonomi,” ujar Nadia.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Ade Meidian Ambari menambahkan, pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan perhatian khusus karena memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi, termasuk cacar api.

“Pencegahan cacar api sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung. Pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan edukasi agar terhindar dari risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi jantung,” katanya.

Menurut Ade, meski komplikasi vaskular seperti stroke dan serangan jantung akibat cacar api tergolong jarang, risiko itu tetap perlu dipahami secara proporsional agar pasien tidak mengabaikan langkah pencegahan.

Di sisi lain, Maia Estianty yang didapuk sebagai Duta Kampanye Kesehatan “Kenali Cacar Api” mengajak masyarakat, khususnya kelompok usia dewasa, untuk menjaga kualitas hidup dengan pola hidup sehat dan perlindungan yang tepat.

“Saya ingin terus berkarya dan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga sehingga saya harus menjaga kesehatan agar momen bahagia tidak terlewatkan. Untuk mencegah terjadinya cacar api, penting bagi orang dewasa menjalani pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi dokter,” ujar Maia.

Sebagai bagian dari penguatan edukasi, GSK Indonesia dan PERKI juga meluncurkan inisiatif HeartShield, program pencegahan bagi pasien kardiovaskular yang mencakup edukasi digital, layanan chatbot berbasis WhatsApp, hingga kampanye media sosial untuk memperluas akses informasi.

Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia Reswita Dery Gisriani mengungkapkan, kelompok dengan risiko tertinggi terkena cacar api di Indonesia adalah pasien HIV/AIDS, kanker, penyakit autoimun, hingga penyakit kardiovaskular dan diabetes.

“Perlindungan terhadap penyakit ini perlu menjadi perhatian, tidak hanya bagi kelompok berisiko, tetapi juga masyarakat secara luas,” kata Reswita.

Melalui Shingles Action Week, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan mengambil peran aktif dalam memperkuat pencegahan, termasuk memperluas akses imunisasi dewasa dan meningkatkan konsultasi kesehatan. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko komplikasi sekaligus menjaga kualitas hidup masyarakat, terutama di tengah meningkatnya populasi usia lanjut di Indonesia.