INDUSTRY.co.id - Pasuruan – PT Jababeka Tbk (KIJA) resmi mengoperasikan pabrik mini gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa. Fasilitas yang berlokasi di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur, ini digadang-gadang menjadi solusi energi industri yang lebih efisien dan rendah emisi.

Peresmian pabrik mini LNG tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Yuliot Tanjung, pada Rabu (11/02), ditandai dengan penekanan tombol sirine.

Proyek ini dikembangkan oleh PT Likuid Nusantara Gas (PT LNG), perusahaan patungan di mana PT Jababeka Infrastruktur, entitas anak KIJA menguasai 60% saham. 
Sementara itu, PT Fortius Development Asia dan pemegang saham perorangan masing-masing memiliki 20% saham. Total investasi yang digelontorkan untuk pembangunan fasilitas ini mencapai sekitar US$16,9 juta.

Dalam sambutannya, Wamen ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa kehadiran fasilitas ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memperluas akses energi bersih dan efisien bagi sektor industri.

“Kilang mini LNG ini merupakan yang pertama di Pulau Jawa dan diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan gas domestik untuk industri, pembangkit listrik, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya,” ujar Yuliot.

Ia juga menyoroti besarnya beban subsidi LPG nasional yang diperkirakan mencapai Rp87 triliun pada 2025. Menurutnya, keberadaan fasilitas mini LNG ini berpotensi mendorong substitusi LPG ke LNG, sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan efisiensi anggaran negara.

“Pada akhirnya akan terjadi efisiensi dan dalam jangka panjang masyarakat bisa mendapatkan energi yang cukup dengan harga yang lebih terjangkau,” tambahnya.

Peresmian ini turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian ESDM, jajaran manajemen PT Jababeka Tbk, PT LNG, serta direksi PT Fortius Development Asia. Hadir pula Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa.

Coppa menyampaikan bahwa proyek ini merupakan wujud kolaborasi teknologi antara Indonesia dan Argentina melalui Galileo Technologies. Ia menilai pembangunan fasilitas mini LNG ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan memperluas pemanfaatan bahan bakar bersih di wilayah kepulauan.

Wakil Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Budianto Liman, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur energi ini.

“Pabrik ini merupakan pabrik mini LNG pertama yang dikelola swasta di Pulau Jawa. Kami yakin fasilitas ini dapat berkontribusi pada penyediaan energi yang lebih rendah emisi dan kompetitif bagi pelaku industri,” ujarnya.

Berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi awal sebesar 2,5 MMSCFD (million standard cubic feet per day) dengan potensi ekspansi hingga 4 MMSCFD per hari. Operasionalnya diharapkan mampu meningkatkan kontribusi bisnis infrastruktur yang bersifat recurring terhadap pendapatan KIJA, seiring meningkatnya kebutuhan energi industri yang lebih ramah lingkungan.

CEO PT LNG, Wira Rahardja, menyebut pihaknya telah mulai menyalurkan LNG ke wilayah Jawa Timur dan Bali dengan dukungan armada distribusi iso tank berukuran 20 dan 40 kaki.

“Pada tahap awal operasional, kami telah berhasil menyediakan dan menyalurkan LNG secara andal, baik dari sisi kualitas maupun distribusi,” kata Wira.

Ia menambahkan, sejumlah konsumen industri telah merasakan manfaat efisiensi biaya energi setelah beralih ke LNG. PT LNG saat ini juga telah bekerja sama dengan beberapa pelanggan, termasuk PGN Gagas.

Target Ekspansi 2027

Ke depan, PT LNG menargetkan peningkatan kapasitas produksi dari 2,5 MMSCFD menjadi 4 MMSCFD per hari melalui penambahan dua unit mesin pengolahan LNG. Ekspansi ini direncanakan terealisasi pada paruh kedua 2027 guna memenuhi permintaan energi industri yang terus meningkat di Jawa Timur, Bali, dan sekitarnya.

“Dengan kapasitas yang lebih besar, kami optimistis dapat menjangkau lebih banyak konsumen sekaligus memperkuat peran dalam mendukung transisi energi sektor industri,” tutup Wira.

Beroperasinya pabrik mini LNG di Pasuruan ini menandai babak baru pengembangan infrastruktur energi modular di Indonesia, sekaligus mempertegas peran swasta dalam mendorong transisi energi nasional menuju sumber yang lebih bersih dan efisien.