INDUSTRY.co.id - Jakarta, Gedung Kesenian Pusat Pelatihan Seni dan Budaya Kisam Bin Djiun, hampir setiap pekan selalu riuh dengan kegiatan keseninan yang digelar masyarakat Jakarta Timur. Namun awal pekan Februari ini, ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Anak-anak disabilitas down syndrome, ODGJ, anak asuhan panti LKSA, pengamen, dan anak jalanan mendapat panggung untuk tampil.
Mereka mendapat kesempatan tampil dan berlomba di Festival Seni Kaum Marjinal Jakarta Berkarya. Sebuah ajang yang pertama digelar dengan dukungan Dana Indonesiana Kementerian Budaya dan LPDP, untuk menampilkan bakat seni kalangan bagi kelompok yang selama ini berada di pinggiran untuk menunjukkan bahwa bakat dan kreativitas tidak mengenal batas sosial maupun fisik.
Festival yang digelar di Gedung Kesenian Pusat Pelatihan Seni dan Budaya Kisam Bin Djiun, Kota Jakarta Timur, Sabtu (7 Februari 2026), ini menampilkan spektrum seni yang luas. Mulai perlombaan mewarnai, penampilan lomba tari Betawi anak-anak dengan down syndrome, lalu kesenian hadroh dan puisi oleh anak asuh LKSA Al-Ma’un, tari kontemporer dari ODGJ asuhan Panti Sosial Bina Laras, hingga aksi panggung pengamen jalanan yang memainkan angklung dan biola. Para penampil berhasil menyihir penonton dengan harmoni yang rapi dan profesional.
Salah satu momen paling mengharukan sekaligus membanggakan adalah penampilan dari anak-anak penyandang Down Syndrome. Dengan penuh percaya diri, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Kemeriahan semakin lengkap dengan kehadiran siswa-siswi SD Muhammadiyah 09 Plus yang membawakan drama musikal bertajuk "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat", dan kesenian marawis dari anak-anak rumah susun Menara Samawa. Sebuah penampilan yang selaras dengan semangat kasih sayang festival ini.
Puncaknya tak kalah memukau adalah penampilan Teater Menong binaan Sanggar Sinar Batavia. Sebuah kisah tentang anak terlantar dan bonekanya yang membawakan pesan tentang lingkungan, ketangguhan mental dan inklusivitas, penampilan mereka menjadi bukti nyata keberhasilan pola pembinaan seni dalam memberdayakan masyarakat melalui ekspresi budaya.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur Berkah Shadaya, S.STP., M.Si, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif ini. Beliau menekankan bahwa seni adalah hak asasi yang harus bisa diakses oleh siapa saja.
"Sudah lama kami mengharapkan ada yang bisa menggelar festival seni inklusif seperti ini. Yang bisa mewadahi anak-anak spesial dan kalangan terpinggirkan. Karena itu kami sangat mendukung festival ini sehingga bisa jadi panggung yang setara, anak-anak kita—baik dari kalangan marjinal maupun disabilitas—mampu menghasilkan karya yang luar biasa dan menyentuh hati," ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Shahibah Yuliani, M.Pd., yang juga sebagai dosen Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta, menjelaskan bahwa tujuan utama festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya pengangkatan martabat dan rasa percaya diri bagi kaum marjinal.
"Kami ingin menghapus stigma negatif pada masyarakat. Tidak ada perbedaan antara anak jalanan, anak panti, anak dengan kebutuhan khusus, dengan anak pada umumnya. Mereka semuanya mampu berkreasi," tutur Shahibah.
Festival ini diharapkan menjadi agenda rutin yang mampu mendorong ekosistem seni yang lebih inklusif di Jakarta, sekaligus menjadi pengingat bagi publik bahwa setiap individu memiliki warna unik yang dapat memperindah wajah ibu kota.
"Keberhasilan perhelatan ini merupakan buah sinergi inklusif antara dunia pendidikan dan industri kreatif. Dukungan strategis dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), PT. Lateeh Pendidik Kreatif, serta Penerbit Mizan menjadi pilar penting yang memungkinkan fasilitas panggung profesional ini dapat dinikmati oleh anak-anak marginal dan disabilitas."