INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan tonggak penting dalam sejarah bisnisnya. Sepanjang 2025, emiten kawasan industri ini membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) real estate sebesar Rp3,6 triliun, melampaui target Perseroan Rp3,5 triliun.
Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Jababeka, sekaligus mencerminkan pertumbuhan sekitar 13 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp3,19 triliun.
Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda mengatakan, kinerja tersebut menegaskan kuatnya daya tarik kawasan industri Jababeka, meski perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian.
“Kinerja ini sekaligus menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Muljadi dalam siaran pers, Senin (9/2).
Pada 2025, kawasan Cikarang mencatatkan marketing sales sebesar Rp1,1 triliun, tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan (year on year). Penjualan tersebut berasal dari lahan seluas 21,2 hektar yang tersebar di seluruh segmen.
Kontribusi terbesar datang dari penjualan tanah matang kawasan industri senilai Rp567,4 miliar dengan luas mencapai 18 hektar. Sementara itu, penjualan produk tanah dan bangunan mencapai Rp365,4 miliar, yang berasal dari bangunan pabrik (standard factory building) sebesar Rp292,7 miliar, dan produk residensial dan komersial sebesar Rp72,7 miliar.
Dari total penjualan tanah matang dan bangunan pabrik yang mencapai Rp860 miliar, sekitar 52 persen berasal dari investor asing, terutama dari Korea Selatan dan China, sementara 48 persen berasal dari investor domestik.
“Penjualan tunggal terbesar berasal dari penjualan lahan seluas 6 hektar kepada perusahaan Korea di sektor personal care dan 4 hektar kepada perusahaan Indonesia di sektor data center,” katanya.
Kontribusi terbesar justru datang dari kawasan industri Kendal, Jawa Tengah. Sepanjang 2025, Kendal menyumbang marketing sales sebesar Rp2,51 triliun dari penjualan lahan seluas 142 hektar, meningkat sekitar 17 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp2,14 triliun. Di kawasan ini, investor asing mendominasi dengan kontribusi sekitar 89 persen dari total nilai penjualan, terutama berasal dari China, Hong Kong, dan Taiwan. Adapun investor domestik menyumbang sekitar 11 persen.
Muljadi mengungkapkan, transaksi terbesar di Kendal mencakup penjualan lahan kepada perusahaan asal China untuk industri ban seluas 8 hektar, industri bahan bangunan seluas 7 hektar, dan industri furnitur seluas 13 hektar.
Selain itu, Jababeka juga mencatat penjualan lahan 12 hektar kepada perusahaan furnitur asal Indonesia, serta satu transaksi lahan 13 hektar kepada perusahaan kemasan asal Hong Kong.
Bidik Rp3,75 Triliun pada 2026
Melihat tren permintaan yang masih kuat, Jababeka menetapkan target marketing sales sebesar Rp3,75 triliun pada 2026. Adapun, target tersebut ditopang oleh; Rp1,25 triliun dari Cikarang, yang terdiri dari, Rp800 miliar dari penjualan tanah matang dan produk industri, Rp450 miliar dari produk residensial dan komersial, dan Rp2,5 triliun dari Kendal, yang seluruhnya berasal dari produk industri.
“Target ini terutama didorong oleh permintaan yang tetap tinggi terhadap lahan industri di Kendal dan Cikarang,” pungkas Muljadi.