INDUSTRY.co.id - Jakarta - Himpunan Kawasan Industri (HKI) menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi industri nasional berbasis teknologi tinggi dengan mengundang perusahaan-perusahaan semikonduktor global untuk membentuk joint venture (JV) bersama mitra lokal di Indonesia.

Langkah strategis ini menjadi bagian dari agenda jangka panjang HKI untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, serta mempercepat hilirisasi industri bernilai tambah tinggi, khususnya di sektor semikonduktor yang kini menjadi fondasi utama industri global.

Ketua Umum HKI, AKhmd Ma'ruf Maulana mengatakan, kawasan industri di Indonesia sat ini tengah memasuki fase ekspansi besar-besaran. Dalam konteks tersebut, industri semikonduktor diposisikan sebagai sektor prioritas yang aktif dijajaki, seiring melonjaknya permintaan global terhadap chip dan komponen elektronik.

"Kami (HKI) mengundang perusahaan semikonduktor global, termasuk dari Amerika Serikat, Taiwan, dan Tiongkok untuk berinvestasi di Indonesia melalui skema joint venture dengan mitra nasional. Skema ini tidak hanya fokus pada pembangunan pabrik saja, tetapi juga percepatan transfer teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia," kata Akhmad Ma'ruf Maulana di Jakarta.

HKI mencatat, minat investor asing terhadap industri semikonduktor di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Dari Amerika Serikat, pembangunan fasilitas industri bahkan telah mulai direalisasikan pada tahun ini. Sementara itu, investor dari Taiwan masih berada dalam tahap penjajakan dan negosiasi. Adapun investasi dari Tiongkok sejatinya telah berjalan, namun pembangunan fisik yang direncanakan dimulai pada 2025 mengalami keterlambatan akibat lambatnya proses perizinan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat momentum strategis Indonesia dalam mengembangkan industri teknologi tinggi dan masuk lebih dalam ke rantai pasok global.

Lebih lanjut, Ketum HKI menjelaskan bahwa rencana investasi dari Taiwan dan Tiongkok memiliki karakteristik berbeda dibandingkan konsorsium Amerika Serikat - Jerman yang saat ini tengah membangun pabrik semikonduktor di Batam. Perbedaan tersebut mencakup struktur konsorsium, pedekatan teknologi, hingga orientasi pasar. Namun demikian, seluruh investasi tetap berada dalam kerangka besar yang sama, yakni meperkuat basis industri nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di industri teknologi global.'

Dari sisi kesiapan lokasi, HKI telah menyiapkan sejumlah kawasan industri strategis yag dinilai sangat kompetitif untuk pengembangan industri semikonduktor. Kawasan tersebut antara lain, Kawasan Industri Batamindo (Batam), Kawasan Industri Wiraraja, Kawasan Industri Kabil, serta Kawasan Galang Batang di Bintan. 

Menurutnya Ma'ruf, kawasan tersebut memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur, akses logistik internasional, serta ekosistem industri yang terus berkembang, sehingga dinilai ideal untuk menopang industri semikonduktor berteknologi tinggi. 

"Pengembangan industri semikonduktor melalui joint venture di kawasan industri Indonesia merupakan fondasi ekonomi masa depan. Ini akan menjadi motor baru pertumbuhan eknomi, meciptakan lapangan kerja berkualitas, memperdalam hilirisasi, dan memperkuat posisi Indonesia di peta industri teknologi dunia," tutup Akhmad Ma'ruf Maulana.