INDUSTRY.co.id - Jakarta – Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), Setyono Djuandi Darmono, mengungkapkan bahwa daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik.
Menurutnya, kesiapan sumber daya manusia (SDM) justru menjadi faktor paling menentukan agar investor benar-benar mau masuk dan berinvestasi jangka panjang di Tanah Air.
Darmono menjelaskan bahwa kawasan industri sejatinya adalah mesin penciptaan lapangan kerja terbesar di Indonesia. Namun, pengembangan kawasan industri harus dilakukan secara terencana dan berbasis kebutuhan investor, termasuk sejak tahap penyiapan tenaga kerja lokal.
“Kawasan industri tidak bisa hanya disiapkan lahannya. Yang paling penting adalah human infrastructure. Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja harus disesuaikan dengan industri apa yang akan masuk,” ujar Darmono dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Ia mencontohkan kawasan industri Jababeka di Cikarang dan Kendal yang relatif lebih siap karena dikelilingi banyak SMK, politeknik, dan perguruan tinggi. Kondisi tersebut membuat pasokan tenaga kerja terampil lebih mudah dipenuhi oleh industri. Namun, situasi berbeda terjadi di daerah-daerah baru yang ingin dikembangkan menjadi kawasan industri.
Darmono menilai, pemerintah pusat dan daerah perlu menyiapkan SDM jauh sebelum kawasan industri dibangun. Hal ini harus didahului dengan test market untuk mengetahui jenis industri apa yang berminat masuk, sehingga kurikulum pendidikan dan pelatihan bisa tepat sasaran.
“Jangan sampai industrinya otomotif, tapi yang dilatih tekstil. Itu tidak nyambung. Pendidikan harus mengikuti kebutuhan investor,” tegasnya.
Lebih lanjut, Darmono juga menyinggung potensi kawasan di luar Jawa, termasuk Balikpapan dan kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, wilayah tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pariwisata, dan kesehatan.
Ia bahkan mengusulkan agar kawasan IKN dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan vokasi skala nasional. Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, ribuan pelajar dari berbagai daerah bisa dilatih menjadi tenaga kerja siap pakai sesuai kebutuhan industri.
“Kalau anak-anak kita terampil, upah bukan masalah. Mereka bisa digaji dua sampai tiga kali upah minimum karena produktivitasnya tinggi. Industri untung, pekerja juga sejahtera,” ujarnya.
Selain kesiapan SDM, Darmono menekankan pentingnya stabilitas kebijakan, kepastian regulasi, serta infrastruktur dasar seperti listrik, air, dan logistik. Namun ia kembali menegaskan bahwa infrastruktur manusia tetap menjadi fondasi utama.
“Kalau human infrastructure tidak siap, infrastruktur fisik sebagus apa pun tidak akan optimal. Pendidikan yang benar, terarah, dan sesuai kebutuhan industri itu kuncinya,” pungkasnya.